Lima Tuntutan Buruh, Dari Tolak Revisi UU PPP Hingga Tolak Liberalisasi Pertanian

Partai Buruh mendesak DPR RI agar mencabut Revisi UU Pembentukan Peraturan Perundang undangan (PPP). Ketua Partai Buruh, Said Iqbal mengatakan bila DPR tak mencabut RUU PPP pihaknya akan menyerukan buruh untuk menghentikan produksi. Bahkan, kata dia, pihaknya juga bakal menyerukan 5 juta buruh agar menggelar aksi unjuk rasa di 34 Provinsi.

"Bilamana DPR tetap tidak mencabut UU PPP untuk pintu jalan membahas Omnibus Law Cipta Kerja, bisa dipastikan kami menyerukan mogok nasional, stop produksi. Lima juta buruh akan terlibat di dalam aksi ini di 34 provinsi," kata Said kepada wartawan di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (15/6/2022). Selain itu, buruh juga menolak aturan masa kampanye yang hanya 75 hari. Menurut Said, aturan masa kampanye tersebut telah melanggar undang undang (UU)

"Kami meminta KPU mencabut (aturan) masa kampanye 75 hari karena KPU berbahaya sekali melanggar UU," kata Said. Sebab menurutnya, dalam UU disebutkan bahwa masa kampanye berlangsung selama 7 hingga 9 bulan sejak ditetapkan daftar pemilih tetap (DPT). Selain itu, Said juga menyoalkan KPU yang telah bersepakat dengan pemerintah dan DPR terkait masa kampanye ini.

Pasalnya, kata dia, pemerintah dan DPR juga merupakan peserta Pemilu. "Kok KPU bersepakat dengan peserta Pemilu, bagaimana dengan Parpol baru termasuk Partai Buruh, bagaimana dengan Parpol non Parlemen," ucap Said. Karena itu, ia menilai bahwa KPU tidak berlaku, Pemilu tidak bersih dan tidak jujur dan adil (Jurdil).

"Berarti KPU sudah tidak berlaku, Pemilu tidak bersih, Pemilu tidak Jurdil," ungkap Said. Sebagai informasi, sejumlah massa buruh yang tergabung dalam Partai Buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI hari ini. Adapun beberapa tuntutan buruh, di antaranya:

1. Tolak revisi UU Pembentukan Peraturan Perundang undangan (PPP); 2. Tolak omnibus law UU Cipta Kerja; 3. Tolak masa kampanye pemilu hanya 75 hari, tapi harus 9 bulan sesuai Undang Undang;

4. Sahkan RUU Pekerja Rumah Tangga (PPRT); dan 5. Tolak liberalisasi pertanian melalui World Trade Organization (WTO).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

© Beli. All Rights Reserved.